Selasa, 04 Mei 2010

Pavilion Malaysia di Shanghai World Expo 2010

Nggak tau apakah ini bentuk pencurian atau promosi budaya Indonesia gratis oleh Malaysia, Bentuk Pavilion Malaysia di Shanghai World Expo 2010 diambil dari bentuk arsitektur rumah gadang yang jelas-jelas asli Indonesia. Tetapi di situs resminya Shanghai World Expo 2010 dikatakan "The inspiration of the pavilion design comes from the traditional Malaysian hut in the expression of a unique style and national spirit of union. The building will comprise two streamlined high slopes with a cross on top, the symbol of Malaysian architecture. The facade of the pavilion will be made from a combination of recyclable materials of palm oil and plastic."

ini gambar nya





menurut situs blog http://weechookeong.wordpress.com/ sebuah blog dari malaysia mengatakan tidak bangga dengan desain paviliun itu, karena telah sekali lagi mengambil kebudayaan negara lain (Indonesia)

3 komentar:

Anonim mengatakan...

masalah design hari ini menurut saya tidak perlu berhenti pada otentisitas buta semacam itu(bahwa malaysia mencuri ini dan itu dari puncak tradisi suku suku di indonesia)karena bahkan bila pun seluruh designer di indonesia hafal luar kepala setiap lekuk gestur arsitektur tradisional semacam itu tetap saja (menurut saya)pencapaian yang akan dihasilkannya adalah kebodohan...mengapa begitu? karena kebutuhan utama bagi designer dan tenaga kreatif semacamnya adalah jaminan ketersinambungan mereka dengan spirit (kesadaran)dari akar budaya (yang saya maksud lokalitas bukan tradisi versi pariwisata)mereka,dan ketajaman sikap terhadap cita rasa modernitas mutakhir...sebagai contoh gereja poh sarang,bukan villa isolla (bukan masalah siapa arsiteknya..)pertannyaanya kemudian apakah hari ini ada pihak-pihak di republik Indonesia memberikan jaminan keselamatan terhadap akses pengaruh budaya lokal bagi anak turunnya? contoh..apa jawaban yang benar bila kebaya dianggap sebagai tampilan yang tidak sopan? bukankah kemudian seni tata rambut tradisi juga akan direduksi? jadi menurut saya jangan sembarangan membicarakan warisan tradisi suku suku di Indonesia bila secara pribadi-pun bahkan kita tak sanggup membenarkannya...hanya orang gila yang menganggap design dan proses kreatif tidak berhubungan dengan puncak cita rasa yang telah nyata-nyata memberikan orang indonesia eksistensi lokalitas yang sangat baik semacam itu...jadi bila orang luar dikatakan 'mecuri' didalam pun ada usaha merusak...

Anonim mengatakan...

okay..sekarang waktunya membicarakan rumah makan padang pavillion…
BEDA ANTARA MALAYSIA PAVILLION (MP) DAN RUMAH MAKAN PADANG(RMP):
MP: ukurannya gigantik…RMP: tidak ada yang sebesar ini
MP: di shanghai expo…RMP: lebih banyak di perempatan jalan
MP: display produk di dalam…RMP: model window display
MP: motif yang digunakan printing diesel RMP: ragam hias
MP: menggunakan logo tower RMP: water tower
selebihnya tidak ada perbedaan yang signifikan…dan inilah yang seharusnya membuat designer dan arsitek Indonesia bersyukur karena malaysia pavillion tidak di buat dengan kesadaran yang berarti…tidak sehebat si bule yang bikin slumdog millionaire di perfilman india atau gereja poh sarang di east java…

Anonim mengatakan...

artinya bahwa sorry to say..TKMDII IX 2009 memecahkan rekor nggambari tong sampah adalah dosa besar mengapa? karena ide yang dimunculkan setara dengan kegiatan pramuka murid SMP jadi mengapa tidak memecahkan rekor inventarisasi data dapur tradisional misalnya...bisa dibuat buku...laku lagi...bisa bikin cerdas lagi...jangan lupa,design interior bukanlah seni rupa jogja

Posting Komentar

Silakan dikomentari